risma^.^arum's Blog

Just another WordPress.com site

Teori Kausalitas Sir Austin Bradford Hill Oktober 21, 2010

Filed under: Public Health — rismalink3 @ 3:32 pm
 Kriteria kausalitas B.Hill (1897-1991)

 Menurut Bradford Hill (1897-1991),
 membuat kriteria dari suatu faktor sehingga faktor tersebut dapat dikatakan sebagai
 faktor yang mempunyai  hubungan kausal.Kriteria tersebut antara lain:
 1. Kekuatan asosiasi
 2. Konsistensi
 3. Spesifisitas
 4. Hubungan temporal
 5. Efek dosis respon
 6. Biologic plausibility (masuk akal)
 7. Koherensi bukti-bukti
 8. Bukti Eksperimen
 9. Analogi







Dengan penjelasan sebagai berikut :

1. Kekuatan asosiasi: Semakin kuat asosiasi, maka semakin sedikit hal tersebut 
   dapat merefleksikan pengaruh dari  faktor-faktor etiologis lainnya.
   Kriteria ini membutuhkan juga  presisi statistik (pengaruh minimal dari
   kesempatan) dan kekakuan  metodologis dari kajian-kajian yang ada terhadap
   bias (seleksi, informasi, dan kekacauan).
2. Konsistensi: Replikasi dari temuan oleh investigator yang berbeda, saat yang
   berbeda, dalam tempat yang berbeda, dengan memakai metode berbeda dan kemampuan
   untuk menjelaskan dengan meyakinkan jika hasilnya berbeda.
3. Spesifisitas dari asosiasi: Ada hubungan yang melekat  antara spesifisitas dan
   kekuatan yang mana semakin akurat dalam mendefinisikan penyakit dan penularannya,
   semakin kuat hubungan yang diamati tersebut. Tetapi, fakta bahwa satu agen
   berkontribusi terhadap penyakit-penyakit beragam bukan merupakan bukti yang
   melawan peran dari setiap penyakit.
4. Temporalitas: Kemampuan untuk mendirikan kausa dugaan bahka pada saat efek sementara
   diperkirakan.
5. Tahapan biologis: Perubahan yang meningkat dalam konjungsi dengan perubahan kecocokan
   dalam penularan verifikasi terhadap hubungan dosis-respon konsisten dengan model
   konseptual yang dihipotesakan.
6. Masuk akal: Lebih siap untuk menerima kasus dengan hubungan yang konsisten dengan
   pengetahuan dan keyakinan kami secara umum. Telah jelas bahwa kecenderungan ini
   memiliki lubang-lubang  kosong, tetapi akal sehat selalu saja membimbing kita.
7. Koherensi: Bagaimana semua observasi dapat cocok dengan model yang dihipotesakan
   untuk membentuk gambaran yang koheren?
8. Eksperimen: Demonstrasi yang berada dalam kondisi yang terkontrol merubah kausa
   bukaan untuk hasil yang merupakan nilai yang besar, beberapa orang mungkin
   mengatakannya sangat diperlukan, untuk menyimpulkan kausalitas.
9. Analogi: Lebih siap lagi untuk menerima argumentasi-argumentasi yang menyerupai
   dengan yang di dapatkan.
About these ads
 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.